Jumat, 06 Januari 2012

Kewajiban Suami dan Istri


Kewajiban Suami

Kewajiban suami atas istrinya adl memberinya nafkah lahir & batin. Sedangkan istri kpd suami menurut pendapat para fuqaha hanya sebatasmemberikan pelayanan secara seksual. Sedangkan memasak, mencuci pakaian, menata mengatur & membersihkan rumah, pd dasarnya adl kewajiban suami, bukan kewajiban seorang istri.
Dalam syariah Islam yg berkewajiban memasak & mencuci baju memang bukan istri, tapi suami. Karena semua itu bagian dari nafkah yg wajib diberikan suami kpd istri. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Kaum laki-laki itu adl pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yg lain (wanita), & karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Al Qur’an Surat: An-Nisa’ : 34)

Pendapat 5 Mazhab Fiqih

Namun apa yg saya sampaikan itu tdk lain merupakan kesimpulan dari para ulama besar, levelnya sampai mujtahid mutlak. Dan kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih mereka, sangat menarik.
Ternyata 4 mazhab besar plus satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri semua sepakat mengatakan bahwa para istri pd hakikatnya tdk punya kewajiban utk berkhidmat kpd suaminya.
  1. Mazhab al-Hanafi
    Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan : Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yg masih harus dimasak & diolah, lalu istrinya enggan unutk memasak & mengolahnya, maka istri itu tdk boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan utk pulang membaca makanan yg siap santap.
    Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan : Seandainya seorang istri berkata,”Saya tdk mau masak & membuat roti“, maka istri itu tdk boleh dipaksa utk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu utk memasak makanan.
  2. Mazhab Maliki
    Di dalam kitab Asy-syarhul Kabir oleh Ad-Dardir, ada disebutkan : wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki sementara istrinya punya kemampuan utk berkhidmat, namun tetap kewajiban istri bukan berkhidmat. Suami adl pihak yg wajib berkhidmat. Maka wajib atas suami utk menyediakan pembantu buat istrinya.
  3. Mazhab As-Syafi’i
    Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan : Tidak wajib atas istri berkhidmat utk membuat roti, memasak, mencuci & bentuk khidmat lainnya, karena yg ditetapkan (dalam pernikahan) adl kewajiban utk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tdk termasuk kewajiban.
  4. Mazhab Hanabilah
    Seorang istri tdk diwajibkan utk berkhidmat kpd suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, & yg sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Maka pelayanan dalam bentuk lain tdk wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.
  5. Mazhab Az-Zhahiri
    Dalam mazhab yg dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri ini, kita juga menemukan pendapat para ulamanya yg tegas menyatakan bahwa tdk ada kewajiban bagi istri utk mengadoni, membuat roti, memasak & khidmat lain yg sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah.
    Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yg bisa menyiapkan bagi istrinya makanan & minuman yg siap santap, baik utk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yg bekerja menyapu & menyiapkan tempat tidur.

Pendapat Yang Berbeda

Namun kalau kita baca kitab Fiqih Kontemporer Dr. Yusuf Al-Qaradawi, beliau agak kurang setuju dgn pendapat jumhur ulama ini. Beliau cenderung tetap mengatakan bahwa wanita wajib berkihdmat di luar urusan seks kpd suaminya.
Dalam pandangan beliau, wanita wajib memasak, menyapu, mengepel & membersihkan rumah. Karena semua itu adl imbal balik dari nafkah yg diberikan suami kpd mereka.
Kita bisa mafhum dgn pendapat Syeikh yg tinggal di Doha Qatar ini, namun satu hal yg juga jangan dilupakan, beliau tetap mewajibkan suami memberi nafkah kpd istrinya, di luar urusan kepentingan rumah tangga.
Jadi para istri harus digaji dgn nilai yg pasti oleh suaminya. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa suami itu memberi nafkah kpd istrinya. Dan memberi nafkah itu artinya bukan sekedar membiayai keperluan rumah tangga, tapi lbh dari itu, para suami harus ‘menggaji’ para istri. Dan uang gaji itu harus di luar semua biaya kebutuhan rumah tangga.
Yang sering kali terjadi memang aneh, suami menyerahkan gajinya kpd istri, lalu semua kewajiban suami harus dibayarkan istri dari gaji itu. Kalau masih ada sisanya, tetap saja itu bukan lantas jdi hak istri. Dan lbh celaka, kalau kurang, istri yg harus berpikir tujuh keliling utk mengatasinya.
Jadi pendapat Syeikh Al-Qaradawi itu bisa saja kita terima, asalkan istri juga harus dpt ‘jatah gaji’ yg pasti dari suami, di luar urusan kebutuhan rumah tangga.

Tugas Suami Istri di Masa Salaf

Kita memang tdk menemukan ayat yg bunyinya bahwa yg wajib masak adl para suami, yg wajib mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, melipat baju adl para suami.
Kita juga tdk akan menemukan hadits yg bunyinya bahwa kewajiban masak itu ada di tangan suami. Kita tdk akan menemukan aturan seperti itu secara eksplisit.
Yang kita temukan adl contoh real dari kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam & juga para shahabat. Sayangnya, memang tdk ada dalil yg bersifat eksplisit. Semua dalil bisa ditarik kesimpulannya dgn cara yg berbeda.
Misalnya tentang Fatimah puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg bekerja tanpa pembantu. Sering kali kisah ini dijadikan hujjah kalangan yg mewajibkan wanita bekerja berkhidmat kpd suaminya. Namun ada byk kajian menarik tentang kisah ini & tdk semata-mata begitu saja bisa dijadikan dasar kewajiban wanita bekerja utk suaminya.
Sebaliknya, Asma’ binti Abu Bakar justru diberi pembantu rumah tangga. Dalam hal ini, suami Asma’ memang tdk mampu menyediakan pembantu, & oleh kebaikan sang mertua, Abu Bakar, kewajiban suami itu ditangani oleh sang pembantu. Asma’ memang wanita darah biru dari kalangan Bani Quraisy.
Dan ada juga kisah lain, yaitu kisah Saad bin Amir radhiyallahu ‘anhu, pria yg diangkat oleh Khalifah Umar menjadi gubernur di kota Himsh. Sang gubernur ketika di komplain penduduk Himsh gara-gara sering telat ngantor, beralasan bahwa dirinya tdk punya pembantu. Tidak ada orang yg bisa disuruh utk memasak buat istrinya, atau mencuci baju istrinya.

Perempuan Dalam Islam Tidak Butuh Gerakan Pembebasan

Kalau kita dalami kajian ini dgn benar, ternyata Islam sangat memberikan ruang kpd wanita utk bisa menikmati hidupnya. Sehingga tdk ada alasan buat para wanitamuslimah utk latah ikut-ikutan dgn gerakan wanita di barat, yg masih primitif karena hak-hak wanita disana masih saja dikekang.
Islam sudah sejak 14 abad yg lalu memposisikan istri sbg makhuk yg harus dihargai, diberi, dimanjakan bahkan digaji. Seorang istri di rumah bukan pembantu yg bisa disuruh-suruh seenaknya. Mereka juga bukan jongos yg kerjanya apa saja mulai dari masak, bersih-bersih, mencuci, menyetrika, mengepel, mengantar anak ke sekolah, bekerja dari mata melek di pagi hari, terus tdk berhenti bekerja sampai larut malam, itu pun masih harus melayani suami di ranjang, saat badannya sudah kelelahan.
Kalau pun saat ini ibu-ibu melakukannya, niatkan ibadah & jangan lupa, lakukan dgn ikhlas. Walau sebenarnya itu bukan kewajiban. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan pahala yg teramat besar buat para ibu sekalian. Dan semoga suami-suami ibu bisa lbh byk lagi mengaji & belajar agama Islam.
Oleh: H. Ahmad Sarwat, Lc

1 komentar:

ari hadi sulaksono mengatakan...

kalau kewajiban suami adalah seperti memasak, mencuci, menyapu, mengepel sungguh ini membuat saya terkejut... bagaimana kiranya kalau suami itu kerjanya seorang tukang batu yang berangkat pagi pulang sore dan sampai di rumah harus memasak, mencuci, membersihkan rumah hal ini benar-benar suami akan kecapaian. sedang istri tak memiliki kewajiban tentang ini bahkan seandainya istri menolak melakukan kewajiban tidak bersalah... apakah perkara ini sebuah keadilaan??? kalaupun suami kadang-kadang harus membantu memasak, mencuci, membersihkan rumah hal ini masih bisa dibenarkan tapi kalau hal ini sebagai kewajiban rutin sungguh hal ini meberatkan suami... apakah suami itu seorang pemimpin atau seorang pelayan untuk istrinya??? adakah dalil yang mendasar akan perkara ini???

Poskan Komentar